Efek Berenang dan Hydrotherapy Pada Otot, Tulang dan Sendi

0

Berenang adalah aktivitas popular, menyenangkan dan sehat yang dapat dilakukan oleh semua usia. Aktivitas berenang membakar banyak kalori, baik untuk sendi dan dapat meningkatkan kekuatan otot dan endurance. Banyak orang dengan cedera dan penyakit orthopaedic lainnya seperti arthritis sendi seringkali mengalami kesulitan untuk latihan fisik akibat otot dan sendi yang masih kurang kuat atau kurang mobile. Latihan fisik pada orang dengan penyakit orthopaedi atau pada saat penyembuhan sangat diperlukan karena kondisi pasien akan menjadi lebih buruk bila tidak dipakai bergerak dan difungsikan seperti sediakala.

Berenang merupakan aktivitas yang ‘low impact’ dan memberikan perasaan berada pada ruang hampa udara karena tekanan air yang menyebabkan daya gravitasi berkurang. Keadaan ini membuat berenang adalah aktivitas fisik yang ideal untuk orang dengan masalah orthopaedic dimana air akan membuat badan terapung dan menyokong tubuh agar dapat menggerakkan sendi-sendi secara penuh tanpa kuatir akan impact yang akan terjadi apabila latihan dilakukan di daratan.

Tenaga yang digunakan pada saat berenang akan membuat pasien mengakumulasi massa otot selain juga memberikan efek positif pada jantung, sehingga sangat dianjurkan untuk semua kelompok usia, bahkan pada orang tua yang sudah rentan. Selain itu, gerakan otot tidak hanya fokus pada suatu bagian tubuh karena seluruh otot pada tubuh kita akan aktif secara otomatis pada saat berenang. Saat badan terendam dalam air, tubuh kita akan mengalami beberapa perubahan fisiologis dimana akibat tekanan hidrostaltik akan membuat darah (500-700cc) yang biasanya terkumpul di kaki akan menuju rongga dada sehingga akan meningkatkan aliran darah balik ke jantung sehingga seterusnya akan mengurangi bengkak dan nyeri pada tungkai bawah pada orang yang biasanya masih dalam masa pemulihan. Selain itu, pada saat tubuh terendam di air kurang lebih 30 menit, akan terjadinya efek pengenceran darah (haemodilution) fisiologis.

Pada penderita penyakit rheumatoid  arthritis dimana viskositas darah lebih kental daripada biasanya seringkali dapat dibantu dengan terapi ini (immersion). (O’Hare et al 1984) Beberapa penelitian menunjukkan pula adanya penurunan kadar hormon stress seperti noradrenaline pada saat tubuh terendam air yang selanjutnya akan mengurangi stress, depresi dan perasaan kesal pada orang setelah berenang (Levine et al 1984).  Terapi hydrotherapy akan sangat bermanfaat pada orang yang mempunyai gangguan kronis seperti fibromyalgia atau chronic fatigue syndrome dimana stress dan depresi seringkali menjadi penyerta kondisi penyakit tersebut.

Berenang pada suhu ekstrim seperti yang sering dilakukan pada saat festival musim dingin tidak dianjurkan. Temperatur air yang ideal untuk berenang biasanya antara 27-36 0 C, karena suhu yang terlalu dingin atau panas akan mempengaruhi kecepatan detak jantung dan menaikkan atau menurunkan suhu inti tubuh. Pada pasien dengan cedera tungkai pada masa pemulihan, latihan dalam air sebaiknya dimulai dengan waktu yang singkat dengan beberapa gerakan latihan dan lebih difokuskan untuk melihat reaksi penderita saat berada didalam air. Hal tersebut tentunya harus dalam pengawasan seorang fisiotherapis yang kompeten. Meskipun berenang memiliki banyak efek positif, namun bila dilakukan secara berlebihan maka aktivitas ini juga dapat menyebabkan cedera. Aktivitas berenang adalah pilihan yang tepat untuk menghindari cedera pada anggota gerak bawah, namun pada level berenang kompetitif akibat latihan yang terlalu intense, beban otot yang berlebihan pada anggota gerak atas yang aktif terus menerus pada saat berenang dapat menyebabkan cedera overuse terutama pada bahu yang dikenal dengan “swimmer’s shoulder” Kondisi ini disebabkan oleh cedera akut disertai inflamasi pada tendon grup otot-otot yang mengelilingi sendi bahu (rotator cuff).

Atlet yang mengalami kondisi ini akan merasakan nyeri yang amat sangat pada saat menarik tangan kebelakang saat renang gaya bebas. Kondisi ini biasanya terjadi akibat kelelahan, ketidakseimbangan otot dan sendi bahu yang terlalu lentur (laxity). Pengobatan pada “swimmer Shoulder” berupa istirahat, kompres dingin, obat – obatan anti inflamasi, dan terkadang, perlu dilakukan injeksi pada sendi bahu. Namun bila keadaan dibiarkan menjadi kronis, pengobatan sering kali memerlukan tindakan operatif. Penderita harus mengurangi jarak renang dan menggunakan beberapa gerakan untuk berenang, atau berenang menggunakan alat bantu kaki dengan siku ditekuk untuk mengurangi iritasi pada sendi bahu.

Gaya berenang lain bila dilakukan berlebihan juga dapat menyebabkan cedera olah raga. Gaya punggung (backstroke) dapat menyebabkan cedera otot di belakang lengan (triceps), atau cedera pada lutut pada atlet yang melakukan gerakan “whip kick” pada renang gaya dada (breaststroke) dan juga cedera pada punggung bagian bawah pada renang gaya kupu-kupu karena posisi hiperekstensi dari punggung bawah yang diperlukan untuk gerakan mengayuh ke depan.

Keamanan dan pencegahan cedera saat berenang harus diutamakan. Pemanasan yang cukup, stretching, tehnik berenang yang benar dan latihan penguatan otot-otot sekitar bahu dan tulang belikat harus dilakukan untuk mencegah cedera olah raga berenang.

Bila anda seorang pemula dan tertarik untuk menekuni olah raga berenang, ada baiknya untuk belajar tehnik gerakan yang benar terlebih dahulu daripada memiliki tehnik yang salah yang malah akan berakibat negatif pada otot dan tendon.

Salam olahraga!

 

744 total views, 16 views today

Do you like this post?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Share.

About Author

Keyakinan adalah salah satu prinsip dan misi hidup Ku. Ikhtiar dan Berdo'a Semoga kesuksesan selalu ada didepan kita.